Aztec Dateng Lagi Pas Udah Pasrah, Tapi Bawa Permata
Aku baru saja menutup laptop. Bukan karena kerjaan selesai, tapi karena otak sudah menyerah duluan. Deadline numpuk, saldo menipis, dan hidup rasanya seperti tombol “skip” yang rusak—nggak bisa dilewati.
Aku rebahan. Menatap langit-langit.
“Ya udah lah,” gumamku. “Hari ini kalah lagi.”
HP di tangan tinggal 22%. Sinyal naik turun. Suasana pas banget buat menyerah.
Tapi entah kenapa, jariku masih membuka satu game yang sudah sering bikin harapan datang lalu pergi: Aztec.
Main Bukan Karena Yakin, Tapi Karena Bosan
Aku buka game itu tanpa semangat. Tidak ada target. Tidak ada strategi. Tidak ada mimpi muluk.
“Main bentar, terus tidur,” kataku ke diri sendiri.
Spin pertama: sepi.
Spin kedua: kosong.
Spin ketiga: nyaris.
Aku senyum kecut.
“Nah kan.”
Biasanya di titik ini aku sudah tutup game. Tapi malam itu beda. Bukan karena optimis—justru karena sudah pasrah. Rasanya mau kalah pun tidak apa-apa. Energi untuk kecewa sudah habis.
Saat Pasrah Jadi Posisi Paling Berbahaya
Aku tekan spin lagi, asal. Tanpa fokus. Sambil mikir besok mau makan apa kalau saldo tinggal segini.
Tiba-tiba…
layar berubah.
Simbol Aztec muncul lebih banyak. Warna lebih terang. Musik sedikit berbeda.
Aku mendongak.
“Hmm?”
Bukan reaksi kaget. Lebih ke heran. Karena sudah lama tidak lihat tampilan seperti itu.
Permata hijau jatuh.
Lalu biru.
Lalu merah.
Aku mulai duduk.
“Eh… kok rame?”
Aztec Datang Lagi, Tapi Kali Ini Nggak Kosong
Simbol demi simbol jatuh rapi. Tidak terburu-buru, tapi pas. Seperti orang yang datang telat, tapi bawa kabar baik.
Permata meledak.
Layar bersih.
Permata baru jatuh lagi.
Angka mulai naik.
Pelan.
Stabil.
Tidak lebay.
Aku masih tenang.
Masih belum berharap.
“Kalau mau ngasih, ngasih aja,” kataku pelan. “Gue udah capek dikecewain.”
Saat Permata Berubah Jadi Jawaban
Di spin berikutnya, sesuatu terjadi. Permata emas muncul. Efek visualnya beda. Multiplier muncul pelan-pelan.
Aku menelan ludah.
“Ini serius?”
Layar makin ramai. Ledakan kecil terus terjadi. Angka naik lebih cepat.
Aku mulai fokus.
Mulai sadar.
Mulai… berharap lagi.
Dan di situlah bahaya sebenarnya.
Detik-Detik di Antara Takut dan Bahagia
Tanganku dingin.
Jantung mulai ikut campur.
Napas tidak lagi santai.
Permata terus jatuh.
Multiplier naik.
Angka melonjak.
Aku melihat layar tanpa berkedip.
“Jangan berhenti,” bisikku. “Sekali ini aja.”
Permata terakhir jatuh.
Ledakan paling besar muncul.
Layar berhenti.
Angka total muncul.
Aku diam.
Bukan karena tidak paham, tapi karena takut percaya.
Saat Pasrah Dibalas dengan Kejutan
Aku cek lagi.
Aku hitung nolnya.
Aku kedip.
“Ini… beneran?”
Nominalnya tidak kecil. Tidak juga berlebihan. Tapi cukup untuk membuat malam itu berubah.
Aku tertawa kecil.
Tertawa tipe orang yang sudah pasrah, lalu tiba-tiba dikasih harapan lagi.
“Dateng lagi ya,” kataku ke layar. “Dan kali ini bawa permata.”
Dari Kamar Sunyi ke Pikiran Ramai
Aku taruh HP di kasur. Menatap langit-langit lagi. Tapi rasanya beda. Tadi kosong, sekarang penuh.
Bukan cuma soal uang. Tapi soal perasaan. Perasaan bahwa hidup belum sepenuhnya selesai bercanda denganku.
Aku bangun. Duduk. Minum air. Nafas panjang.
“Gue kira malam ini cuma bakal tidur sambil kesel,” gumamku. “Ternyata nggak.”
Rezeki yang Datang Tanpa Teriak
Tidak ada teriakan. Tidak ada lompat-lompat. Aku cuma senyum.
Karena entah kenapa, kemenangan yang datang saat pasrah rasanya lebih tenang. Lebih dewasa. Lebih masuk akal.
Seperti hidup bilang,
“Tenang, gue belum lupa sama lu.”
Aztec dan Pelajaran yang Datang Diam-Diam
Malam itu aku belajar satu hal penting:
kadang yang bikin kita capek bukan kalahnya, tapi berharap terlalu keras.
Saat kita lepas, saat kita berhenti maksa, justru hal baik bisa datang dengan cara yang santai.
Aztec malam itu tidak datang dengan teriakan.
Tidak dengan janji.
Tapi dengan permata kecil yang cukup buat mengubah suasana.
Hari Esok yang Lebih Ringan
Pagi harinya aku bangun dengan perasaan beda. Masalah masih ada. Kerjaan masih nunggu. Tapi beban di dada terasa lebih ringan.
Aku ngopi sambil senyum kecil.
Bukan karena merasa menang besar, tapi karena merasa didengarkan.
Kadang yang kita butuhkan bukan jackpot gila-gilaan, tapi tanda kecil bahwa usaha dan kesabaran kita tidak sia-sia.
Pasrah Bukan Berarti Menyerah
Aztec datang lagi pas aku sudah pasrah. Dan justru karena itu, dia datang dengan cara yang paling tepat.
Tidak berisik.
Tidak lebay.
Tapi bermakna.
Permata yang jatuh malam itu bukan cuma simbol kemenangan, tapi simbol pengingat:
bahwa hidup bisa memberi kejutan saat kita berhenti memaksa.
Dan mungkin…
pasrah bukan akhir, tapi pintu masuk ke kejutan yang lebih jujur.
Karena terkadang, saat kita bilang,
“Ya udah lah,”
hidup justru menjawab,
“Eh, tunggu dulu.” 💎✨
