Cair dari Lucky Neko, Langsung Beli Kalung Lonceng Kucing
Pagi itu aku bangun dengan kondisi dompet yang bisa dibilang sedang diet ekstrem. Isinya tipis, ringan, dan kalau dibuka cuma ada struk lama serta harapan palsu. Sarapan? Nanti saja. Yang penting kopi sachet dulu, biar sadar kalau hidup masih jalan.
HP-ku menyala dengan baterai 23%. Notifikasi grup WhatsApp sudah ramai, tapi aku tidak punya energi untuk ikut nimbrung. Fokus utamaku cuma satu: bertahan hidup sampai malam.
Modal Tipis, Mental Nekat
Siang menjelang sore, aku duduk di kamar dengan kipas angin yang bunyinya seperti mesin traktor. Pikiran ke mana-mana. Kerjaan belum beres, saldo belum nambah, dan dompet makin kurus.
Entah kenapa, jempolku refleks membuka game Lucky Neko. Mungkin karena kucingnya terlihat ramah. Tidak menghakimi. Tidak nanya, “Kamu kok gini-gini aja?”
“Modal sisa dikit, main santai aja,” kataku pada diri sendiri.
Kalimat itu selalu terdengar bijak, padahal sering jadi awal dari kejadian tidak terduga.
Spin pertama: biasa.
Spin kedua: masih aman.
Spin ketiga: mulai ada simbol kucing berkumpul, tapi belum pecah.
Aku menghela napas.
“Ya sudah, hiburan saja.”
Padahal jantung sudah mulai ikut irama musik game.
Saat Kucing Mulai Tersenyum Lebar
Di spin yang entah keberapa, layar tiba-tiba terasa lebih hidup. Simbol kucing emas muncul lebih sering. Warna layar makin rame. Musiknya terdengar lebih semangat, seperti memberi isyarat, “Sabar… bentar lagi.”
Aku mendekatkan HP ke wajah.
“Jangan PHP ya,” gumamku. “Aku sudah terlalu sering ditinggal.”
Tiba-tiba…
Scatter muncul.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Lah?” aku refleks duduk tegak.
Putaran bonus aktif. Kucing Lucky Neko muncul dengan ekspresi yang seolah berkata, “Tenang, aku pegang kendali.”
Detik-Detik Saat Rezeki Mulai Mengalir
Putaran bonus berjalan. Simbol demi simbol jatuh. Kucing emas muncul lagi. Angka mulai naik. Bukan naik pelan, tapi naik dengan niat.
Tanganku dingin.
Mulutku kering.
Mataku tidak berkedip.
“Ini beneran nggak sih?” gumamku.
Kucing di layar terus tersenyum. Seolah menikmati kepanikanku.
Boom.
Simbol pecah.
Angka melonjak.
Aku tertawa kecil.
“Jangan bercanda… jangan bercanda…”
Tapi Lucky Neko tidak bercanda.
Saat Cair dan Dunia Mendadak Terang
Putaran bonus selesai. Layar berhenti. Angka terakhir muncul dengan jelas. Saldo bertambah signifikan.
Aku terdiam.
Bukan karena tidak senang, tapi karena otakku lagi loading. Seperti HP jadul habis restart.
“Cair?” kataku pelan.
Aku cek ulang.
Aku gosok layar.
Aku tarik napas.
Iya. Cair.
Aku berdiri. Duduk lagi. Lalu berdiri lagi. Kipas angin tetap berisik, tapi rasanya dunia jadi lebih tenang.
“Ya ampun,” kataku sambil senyum sendiri. “Kucing, kamu serius bantuin hidup gua.”
Ide Paling Tidak Penting Tapi Terasa Wajib
Setelah euforia agak reda, muncul satu pikiran aneh di kepalaku.
“Kalau Lucky Neko bawa hoki… berarti harus dijaga dong.”
Mataku tertuju ke kucing peliharaanku yang lagi tidur di pojok kamar. Namanya Miko. Dia bangun, menguap, lalu menatapku seolah berkata, “Kenapa lu liatin gua gitu?”
Aku senyum lebar.
“Miko,” kataku, “kayaknya kamu perlu upgrade.”
Beli Kalung Lonceng, Demi Hoki Berkepanjangan
Tanpa pikir panjang, aku buka marketplace. Bukan cari HP baru. Bukan cari motor. Tapi cari kalung lonceng kucing.
“Yang lucu… yang bunyinya nyaring… yang keliatan hoki,” gumamku.
Aku klik salah satu. Ada lonceng kecil berwarna emas, dengan tulisan Good Luck.
“Ini cocok,” kataku mantap.
Klik Beli Sekarang.
Miko masih menatapku.
“Kamu tenang aja,” kataku ke dia. “Ini investasi jangka panjang.”
Reaksi Orang Rumah yang Tidak Siap
Beberapa hari kemudian, paket datang. Aku buka dengan penuh khidmat. Kalung lonceng kecil itu berkilau.
Saat aku pasangkan ke leher Miko, loncengnya berbunyi pelan.
kring… kring…
Ibuku lewat.
“Itu apaan?”
“Kalung lonceng, Bu.”
“Buat apa?”
“Biar hoki.”
Ibuku menghela napas panjang.
“Kamu jangan aneh-aneh.”
Miko berjalan pelan. Setiap langkah berbunyi. Rasanya seperti ada soundtrack hidup yang baru.
Hidup Tidak Berubah Drastis, Tapi Rasanya Berbeda
Apakah setelah itu hidupku langsung lancar?
Tidak juga.
Masalah tetap ada. Kerjaan tetap numpuk. Tapi entah kenapa, setiap kali dengar bunyi lonceng Miko, aku senyum.
Mungkin karena aku ingat satu momen absurd ketika seekor kucing virtual membantu hidupku sedikit lebih ringan.
Lucky Neko hari itu bukan cuma soal uang. Tapi soal harapan. Soal kejutan kecil di tengah hari yang biasa saja.
Pelajaran Hidup dari Kucing dan Lonceng
Dari semua kejadian itu, aku belajar beberapa hal penting:
-
Hoki kadang datang dari hal yang tidak masuk akal.
-
Yang penting bukan seberapa besar hasilnya, tapi momennya.
-
Kalau sudah cair, jangan lupa senangin diri—meski cuma beli kalung lonceng.
Setiap kali Miko berjalan dan loncengnya berbunyi, aku selalu ingat hari itu. Hari di mana Lucky Neko tersenyum, dan dompetku ikut tersenyum.
Karena pada akhirnya, hidup memang tidak selalu manis. Tapi kadang…
cukup satu momen, satu kucing, dan satu bunyi lonceng kecil untuk bikin semuanya terasa lebih hoki. 😄🐱🔔
