Jackpot Cair dari Sweet Bonanza, Langsung Beli Motor Baru
Aku pulang ke rumah dengan langkah gontai. Motor tua di garasi menatapku dengan wajah pasrah—kalau motor bisa ngomel, mungkin dia sudah ceramah soal umur dan oli yang jarang diganti. Knalpotnya batuk-batuk, starter kadang hidup kadang enggak, mirip semangatku akhir-akhir ini.
Sampai di kamar, aku rebahan sambil menatap langit-langit. HP di tangan, layar sudah penuh retakan seperti peta jalur alternatif mudik. Sinyal naik turun, baterai 18%, dan hidup terasa 18% juga.
“Yaudah lah,” gumamku. “Cari hiburan dikit.”
Sweet Bonanza, Tempat Orang Putus Asa Cari Hiburan
Tanpa mikir panjang, aku buka Sweet Bonanza. Bukan karena yakin bakal menang, tapi karena permen-permennya cerah. Di saat hidup terasa abu-abu, warna-warna itu lumayan jadi obat.
“Main santai aja,” kataku sok bijak.
“Kalau kalah ya ketawa, kalau menang… ya nggak mungkin.”
Spin pertama: zonk.
Spin kedua: zonk lagi.
Spin ketiga: permen jatuh rame, tapi hasilnya tetap bikin dompet ketawa miris.
Aku lanjut sambil setengah merem. Musik ceria Sweet Bonanza justru terasa seperti ejekan halus, seolah bilang, “Santai bro, hidup memang suka bercanda.”
Saat Permen Jatuh, Jantung Ikut Loncat
Di spin yang entah keberapa, layar HP tiba-tiba bergetar lebih lama. Bukan getaran biasa. Ini getaran yang bikin jantung refleks ikut deg-degan.
“Eh?”
Permen ungu jatuh.
Permen hijau menyusul.
Permen kuning, merah, biru… rame.
Lalu muncul bom kecil.
Disusul bom lagi.
Aku duduk tegak.
“Jangan ngadi-ngadi,” bisikku. “HP gue sering error.”
Bom meledak. Angka naik. Musik berubah lebih intens. Layar penuh animasi. Tanganku mulai dingin.
Dan di saat itulah, tulisan yang selama ini cuma kulihat di cerita orang lain muncul dengan anggun:
JACKPOT
Aku diam.
Bukan karena tenang, tapi karena otakku lagi loading. Seperti komputer warnet yang kebanyakan buka tab.
“Hah?”
Aku kedip.
Aku gosok layar.
Aku cek sinyal.
Tulisan itu masih ada. Angkanya nambah.
“YA ALLAH!” teriakku.
Tetangga depan rumah nengok. Kucing kabur. Aku sendiri hampir jatuh dari kasur.
Jackpot Cair, Otak Ikut Cair
Saldo bertambah. Angkanya nyata. Tidak ada error, tidak ada mimpi, tidak ada kamera tersembunyi.
Aku tertawa sendiri seperti orang kurang kerjaan.
“Ini beneran nggak sih?” gumamku sambil bolak-balik cek.
HP lamaku panas, tapi kali ini aku tidak marah.
“Tenang,” kataku. “Sebentar lagi hidup kita naik level.”
Begitu jackpot cair, satu pikiran muncul di kepala. Bukan liburan, bukan foya-foya, bukan juga pamer ke grup.
Pikiranku langsung ke garasi.
Motor tuaku.
Yang tiap pagi harus dibujuk.
Yang suaranya bikin malu kalau lewat komplek.
“Kayaknya kamu sudah capek,” kataku lirih.
Dari Mimpi ke Showroom Motor
Tanpa banyak drama, aku buka marketplace motor. Biasanya cuma berani lihat-lihat, sekarang langsung mikir warna dan tipe.
“Yang irit… yang nyaman… yang nggak malu-maluin…”
Tanganku gemetar bukan karena takut, tapi karena tidak terbiasa memegang harapan.
Aku tarik napas panjang.
Klik.
Deal.
Saat itu rasanya seperti mimpi. Aku bengong lama di kasur, menatap langit-langit sambil senyum sendiri.
“Sweet Bonanza,” gumamku. “Lu nggak cuma manis, tapi niat.”
Lingkungan Sekitar Tidak Siap
Kabar menyebar lebih cepat dari gosip artis. Grup WhatsApp mendadak ramai.
“Serius beli motor baru?”
“Dapet rezeki dari mana?”
“Bro, spill jam main.”
Ada juga yang tiba-tiba sok bijak:
“Rezeki memang nggak ke mana.”
Ibu nelpon.
“Kamu beli motor?”
“Iya, Bu.”
“Uangnya dari mana?”
“Dari permen, Bu.”
“…Kamu ini aneh.”
Aku mengangguk walau ibu tidak melihat.
Hari Motor Baru Datang
Hari pengambilan motor, aku berdiri di showroom dengan perasaan campur aduk. Motor itu mengilap. Baunya khas. Rasanya seperti awal hidup baru.
Saat kunci diputar, mesin menyala halus. Tidak ada batuk. Tidak ada drama. Tidak ada suara minta ampun.
Aku naik, pelan-pelan keluar showroom. Angin menyentuh wajah. Untuk pertama kalinya, aku merasa… tenang.
Motor tua di rumah?
Dia kuganti dengan hormat. Dia sudah berjasa.
Hidup Tidak Langsung Sempurna, Tapi Lebih Nyaman
Apakah hidupku langsung berubah total?
Tidak juga.
Masalah masih ada. Tagihan masih antre. Deadline tetap datang. Tapi ada satu hal yang berbeda—sekarang aku menjalani semuanya dengan senyum kecil.
Setiap kali naik motor baru, aku selalu teringat hari itu. Hari ketika permen jatuh dari langit dan hidup ikut berubah arah.
Sweet Bonanza mengajarkanku satu hal penting:
Hidup itu acak. Kadang zonk, kadang jackpot. Yang penting, tetap nikmati prosesnya.
Dan satu pelajaran tambahan yang tidak kalah penting:
Kalau jackpot sudah cair,
jangan cuma masuk tabungan.
Kadang, hadiahi diri sendiri.
Karena hidup terlalu singkat untuk terus menunda bahagia.
Aku menepuk setang motor sambil tersenyum.
“Siapa sangka,” gumamku,
“dari permen… gue pulang naik motor baru.”
Dan sejak hari itu, setiap kali mendengar musik Sweet Bonanza, aku tidak cuma ingat game—
aku ingat momen ketika hidup berkata:
“Tenang, giliran kamu senyum sekarang.” 😄🏍️🍬