Jackpot Keluar Pas Lagi Rapat Zoom, Mikrofon Masih Nyala
Dan kisah ini adalah bukti nyata bahwa rezeki dan aib bisa datang bersamaan, di waktu yang sama, dengan volume yang sama pula.
Rapat Pagi yang Terlihat Normal
Namanya Danu. Umur 29 tahun. Posisi: staf operasional. Status mental: capek tapi pura-pura kuat. Pagi itu, Danu duduk di depan laptop dengan kaus rapi di atas, celana rumah di bawah—pakaian resmi WFH sejati.
Jam menunjukkan pukul 09.00. Rapat Zoom dimulai. Judul rapatnya singkat tapi menipu: “Briefing Mingguan (30 Menit)”. Danu sudah tahu, 30 menit itu cuma mitos.
Kamera dimatikan.
Mikrofon… menurut Danu sudah dimatikan.
Ia mengangguk-angguk sopan setiap beberapa detik, meskipun sebenarnya pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Presentasi berjalan lambat. Slide dibaca satu per satu, seperti audiobook tanpa emosi.
“Follow up… sinergi… optimalisasi…”
Kata-kata itu masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Kesalahan Kecil yang Terlihat Sepele
Tangan Danu refleks mengambil ponsel. Bukan karena tidak sopan, tapi karena refleks manusia yang bosan. Ia buka layar, melihat notifikasi kosong, lalu tanpa sadar membuka aplikasi slot favoritnya.
“Spin kecil aja,” batinnya.
“Lagi nggak ngapa-ngapain juga.”
Volume ponsel sudah nol.
Laptop di depan, ponsel di bawah meja.
Dua dunia berjalan bersamaan.
Spin pertama: biasa.
Spin kedua: zonk.
Spin ketiga: simbol mulai rapat.
Danu tersenyum kecil, masih mengangguk ke layar Zoom seolah benar-benar memperhatikan.
Ketika Keberuntungan Mulai Iseng
Masuk spin ke-10, scatter pertama muncul.
Danu berhenti mengangguk.
Scatter kedua muncul.
Danu duduk lebih tegak.
Scatter ketiga…
Free spin aktif.
Danu refleks menelan ludah. Tangannya otomatis menutup speaker ponsel, meskipun volume sudah nol sejak awal. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada koneksi WiFi tetangga.
Di Zoom, suara manajer masih terdengar,
“Ini penting ya, mohon dicatat…”
Danu mengangguk lebih keras. Terlalu keras.
Otak Terbelah Dua
Free spin dimulai. Simbol jatuh pelan. Multiplier kecil muncul. Saldo naik sedikit.
Danu tersenyum tipis.
Ia lupa satu hal penting: mikrofon Zoom belum di-mute.
Free spin keempat, multiplier x10 turun.
Danu refleks berbisik,
“Eh… lumayan.”
Dan di layar Zoom…
indikator suara di nama Danu menyala hijau.
Ruang rapat hening sejenak.
Manajer berhenti bicara.
“Barusan siapa?”
Danu membeku.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Panik Tidak Pernah Membantu
Dengan gerakan panik, Danu menggerakkan kursor ke layar laptop. Ia berniat menekan tombol mute. Tapi karena tangan gemetar dan otak tidak sinkron, yang ia klik justru… raise hand.
Ikon tangan muncul di layar Zoom.
Semua peserta menoleh.
Manajer berkata,
“Oh, Danu mau komentar?”
Danu menelan ludah.
“I-ini, Pak… jaringan saya agak… eh…”
Manajer mengangguk,
“Oh, oke.”
Free spin masih berjalan.
Danu berkeringat dingin.
Jackpot Tidak Mengenal Etika Rapat
Free spin terus berlanjut. Multiplier makin sering muncul. x20. x32. Simbol nyambung bertubi-tubi.
Danu menahan napas.
Ia tidak berani bersuara.
Bahkan batuk pun ditahan.
Lalu masuk free spin terakhir.
Layar ponsel berkedip.
Simbol jatuh rapat.
Multiplier x100 turun dengan anggun.
Dan…
JACKPOT KELUAR.
Angka melonjak.
Animasi kemenangan muncul.
Refleks manusia mengalahkan logika.
Danu berteriak,
“WOOO—”
Setengah detik kemudian, ia sadar.
Terlambat.
Di Zoom, suara itu terdengar jelas, jernih, dan penuh emosi.
Hening yang Mematikan
Semua kotak peserta menyala.
Nama Danu disorot otomatis.
Tidak ada yang bicara.
Manajer memandang layar dengan wajah datar.
“Danu…?”
Danu menatap layar laptop seperti terdakwa menatap hakim. Jantungnya hampir keluar lewat telinga.
Jackpot masih tampil di ponsel.
Saldo naik tanpa rasa bersalah.
“I-itu… maaf Pak…” kata Danu lirih.
Manajer bertanya,
“Kamu teriak karena apa?”
Jawaban Darurat dari Otak Panik
Otak Danu bekerja keras. Sangat keras. Lebih keras dari biasanya.
Ia menjawab,
“Karena… eh… ide Bapak barusan… bagus banget.”
Hening lagi.
Satu peserta mematikan kamera.
Yang lain menunduk, bahunya naik-turun menahan tawa.
Manajer mengangguk pelan.
“Oh. Baik.”
Rapat dilanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi chat Zoom mulai hidup.
“Mic lu nyala, bro.”
“Timing lu nggak ngotak.”
“Legendary moment.”
Danu mematikan mikrofon.
Benar-benar mematikan.
Bahkan mengecek tiga kali.
Rezeki Masuk, Mental Keluar
Rapat selesai 45 menit kemudian. Danu bersandar di kursi. Keringat dingin belum hilang. Jackpot sudah aman, tapi jiwanya masih tertinggal di ruang Zoom.
Notifikasi chat masuk bertubi-tubi.
Ada yang ngakak.
Ada yang salut.
Ada yang minta tips (padahal Danu sendiri tidak tahu caranya).
Lalu satu chat muncul.
Dari manajer.
“Danu, nanti jam 4 kita ngobrol sebentar ya.”
Danu menatap layar lama.
Menarik napas panjang.
“Ya Tuhan…,” gumamnya.
Plot Twist Sore Hari
Jam 4 sore, Zoom dibuka lagi. Kali ini cuma berdua.
Manajer membuka pembicaraan,
“Danu…”
Danu siap dimarahi.
Tapi manajer melanjutkan,
“Jackpotnya gede?”
Danu melongo.
“Hah?”
Manajer tersenyum tipis,
“Tenang. Saya juga pernah kejadian mirip.”
Danu hampir tidak percaya.
Manajer menutup pembicaraan dengan satu kalimat bijak,
“Lain kali, sebelum spin apa pun… pastikan mute. Rezeki boleh datang tiba-tiba, tapi profesionalitas jangan sampai bocor.”
Danu mengangguk cepat.
“Iya, Pak. Siap, Pak.”
Pelajaran Abadi
Sejak hari itu, Danu berubah.
Bukan berhenti iseng.
Tapi selalu cek mikrofon sebelum apa pun.
Ia belajar bahwa:
-
Jackpot bisa cair
-
Rekaman Zoom tidak bisa dihapus
-
Dan teriakan spontan adalah musuh utama karier
Kini, sebelum rapat dimulai, Danu selalu memastikan tiga hal:
-
Kamera mati
-
Mikrofon mute
-
Slot ditutup rapat
Karena satu kesalahan kecil bisa membuat:
-
Saldo naik
-
Tapi nama jadi legenda
Dan satu pesan terakhir yang selalu ia ingat:
“Kalau jackpot keluar pas rapat Zoom,
pastikan cuma dompet yang teriak…
bukan kamu.”
🎰🎧😂
