Aku bangun dengan mata setengah terbuka, membuka notifikasi. Grup keluarga ribut. Grup teman isinya kiriman meme basi. Grup kerja? Jangan ditanya—isinya deadline yang datang lebih cepat daripada gajian.
“Tenang,” kataku sambil menghela napas. “Hari ini pasti biasa aja. Nggak mungkin lebih buruk.”
Kalimat itu ternyata adalah tantangan bagi semesta.
HP Retak, Kuota Sekarat, Mental Kritis
HP-ku jatuh lagi. Untuk kesekian kalinya. Layarnya sudah retak seperti kaca jendela rumah kosong di film horor. Kalau disentuh, kadang geraknya ke kanan, kadang ke kiri, kadang ke masa lalu.
Aku duduk di kursi plastik depan rumah, minum kopi sachet yang rasanya lebih pahit dari kenyataan hidup. Kuota tinggal sedikit. Saldo? Jangan dibahas, nanti kopi jadi asin.
Di saat seperti itu, entah kenapa jempol ini refleks membuka game Sweet Bonanza. Mungkin karena warnanya cerah. Mungkin karena permen-permennya terlihat bahagia, tidak seperti aku.
“Main sebentar aja,” gumamku. “Buat hiburan.”
Kalimat klasik yang selalu berujung debat batin.
Spin Santai yang Tidak Santai
Spin pertama: zonk.
Spin kedua: zonk lagi.
Spin ketiga: masih zonk, tapi ada bom kecil jatuh, bikin deg-degan dikit.
Aku nyengir.
“Yaudah lah, namanya juga hiburan.”
Padahal tangan sudah mulai panas, jantung mulai ikut irama musik game, dan otak mulai menyusun skenario halu.
Spin demi spin berjalan. Permen jatuh, hilang, jatuh lagi, lalu menghilang bersama harapanku. Sampai tiba-tiba… layar HP bergetar agak lama. Bukan getar biasa. Ini getar yang bikin badan refleks tegak.
“Loh?”
Permen warna ungu jatuh. Disusul permen hijau. Lalu kuning. Lalu merah. Bom jatuh. Layar makin rame. Angka mulai naik.
Aku menelan ludah.
“Jangan bercanda,” kataku pada HP. “Gua lagi rapuh.”
Detik-Detik Saat Dunia Mendadak HD
Tulisan itu muncul.
MAXWIN.
Aku tidak langsung teriak. Aku diam. Terlalu diam. Otakku butuh waktu untuk memproses kenyataan. Mungkin sekitar tiga sampai lima hari kerja.
“Ini beneran… atau HP gua error?” gumamku.
Aku kedip.
Aku gosok layar.
Aku tekan tombol volume.
Tulisan itu masih ada. Angkanya nyata. Bukan ilusi, bukan mimpi, bukan salah server.
“YA ALLAH!” teriakku akhirnya.
Tetangga menoleh. Kucing lari. Burung terbang. Dunia berhenti sejenak.
Dari Manusia Biasa ke Manusia Bingung
Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi karena tidak terbiasa memegang keberuntungan. Biasanya pegang masalah.
Aku duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Kopi tumpah. Aku tidak peduli. Prioritas hidup mendadak berubah.
Hal pertama yang kulakukan setelah saldo masuk?
Bukan update status.
Bukan flexing.
Bukan juga cerita ke siapa-siapa.
Aku buka aplikasi belanja.
HP lamaku seperti mendesah pelan. Layarnya makin redup, seolah tahu ajalnya sudah dekat.
“Tenang,” kataku sambil mengusap casingnya yang terkelupas. “Kamu sudah berjasa.”
Beli HP Baru Tanpa Banyak Drama
Aku scroll HP baru dengan perasaan campur aduk. Biasanya cuma berani masuk wishlist, sekarang langsung klik.
“RAM gede… memori luas… kamera jernih… baterai tahan lama…”
Rasanya seperti memilih masa depan.
Klik.
Beli Sekarang.
Jantung berdebar lebih kencang daripada saat maxwin tadi. Ada rasa takut. Takut saldo salah hitung. Takut bangun dan semua ini cuma mimpi.
Tapi notifikasi datang:
Pesanan berhasil.
Aku senyum sendiri seperti orang yang baru dapat kabar mantan balikan—bedanya ini membahagiakan.
Reaksi Lingkungan yang Tidak Siap Mental
Kabar menyebar. Entah dari mana. Grup WhatsApp tiba-tiba ramai.
“Serius lu maxwin?”
“Spill jam main dong.”
“Minjem dulu ya, nanti gua balikin… kapan-kapan.”
Ada juga yang mendadak sok bijak:
“Rezeki emang nggak ke mana.”
Aku baca sambil ketawa. Hidup memang lucu. Kemarin aku invisible, hari ini jadi bahan obrolan.
Ibu nelpon.
“Kamu beli HP baru?”
“Iya, Bu.”
“Uangnya dari mana?”
“Dari permen, Bu.”
“…Kamu jangan aneh-aneh.”
Aku mengangguk walau ibu tidak melihat.
Momen Sakral Tanpa Musik
Hari paket datang, aku hampir tidak berkedip. Kurir datang seperti malaikat berseragam. Kotaknya rapi. Segelnya utuh.
Aku buka pelan-pelan, seolah takut mengejutkan HP baru itu.
Layarnya mulus.
Kameranya bening.
Respons sentuhannya cepat.
Aku bandingkan dengan HP lama. Rasanya seperti membandingkan motor tahun 90-an dengan roket.
Saat memindahkan data, HP lama tiba-tiba mati total. Tidak bisa menyala lagi.
“Dia pergi dengan damai,” gumamku. “Setelah melihat penggantinya.”
Hidup Tidak Berubah, Tapi Rasanya Lebih Jelas
Apakah hidupku langsung berubah total?
Tidak.
Masalah tetap ada. Deadline masih datang. Tagihan masih antre. Tapi ada satu hal yang berbeda—sekarang aku melihatnya dengan layar yang jernih.
Sweet Bonanza hari itu mengajarkanku sesuatu:
Kadang hidup memberi kejutan di saat kita tidak berharap apa-apa.
Kadang permen jatuh, dan masalah ikut runtuh sebentar.
Dan satu pelajaran paling penting:
Kalau dapat jackpot maxwin, jangan banyak mikir.
Langsung beli HP baru.
Karena hidup mungkin tetap berat,
tapi setidaknya sekarang
ngelag-nya cuma perasaan, bukan layar. 😄
