Jackpot Sweet Bonanza, Dompetku Langsung Jadi Candy Shop Dadakan
Aku duduk di kamar, kipas angin bunyinya seperti mesin pesawat mau take off, HP di tangan panas bukan karena spek tinggi, tapi karena sudah kerja rodi bertahun-tahun. Layarnya retak halus, seperti pola es batu di freezer.
“Tenang,” kataku sambil menepuk dompet. “Hari ini kita bertahan.”
Dompet tidak menjawab. Mungkin dia sudah lelah berharap.
Sweet Bonanza, Hiburan Murah Meriah yang Tidak Murahan
Dalam kondisi hidup seperti itu, manusia biasanya mencari dua hal: ketenangan atau distraksi. Aku memilih distraksi. Aku buka Sweet Bonanza, game dengan permen warna-warni yang selalu terlihat bahagia—kebalikan dari saldo rekeningku.
Permen jatuh dari atas layar dengan ekspresi ceria, seolah tidak tahu betapa kerasnya dunia luar. Musiknya ceria, seperti berkata, “Santai aja, hidup jangan dibawa tegang.”
“Main sebentar aja,” ucapku sok dewasa. “Buat hiburan.”
Kalimat yang sering diucapkan orang-orang sebelum sejarah ditulis.
Spin pertama: zonk.
Spin kedua: zonk, tapi permen jatuh rame.
Spin ketiga: masih zonk, tapi jantung mulai ikut irama musik.
Aku ketawa kecil.
“Lumayan, hiburannya dapet.”
Saat Permen Mulai Niat
Entah spin keberapa, tiba-tiba layar terasa beda. Permen jatuh lebih rapat. Warna-warni memenuhi layar seperti pesta ulang tahun anak sultan. Bom kecil muncul. Lalu yang lebih besar.
Aku refleks duduk tegak.
“Eh?”
Bom meledak. Multiplier muncul. Angka mulai naik pelan, tapi pasti. Jantungku ikut naik level.
“Jangan bercanda,” bisikku. “Gua lagi sensitif.”
Permen meledak lagi. Multiplier nambah. Musik berubah lebih intens. Tanganku dingin. Nafas pendek.
Dan di saat itulah, layar menampilkan momen yang jarang sekali muncul—apalagi di HP uzurku:
JACKPOT.
Aku diam.
Bukan karena kalem, tapi karena otakku lagi loading.
“Hah…?”
Aku kedip.
Aku gosok layar.
Aku cek lagi.
Tulisan itu masih di sana. Angkanya nyata. Tidak kabur, tidak imajiner.
“WOIIII!” teriakku refleks.
Dompetku Kaget Lebih Dulu
Begitu hasil masuk, hal pertama yang kulakukan bukan lompat-lompat kegirangan. Aku buka dompet.
Dompet itu kubuka perlahan, seperti membuka kotak kejutan. Seolah-olah dia bisa ikut berubah secara ajaib.
“Tenang,” kataku ke dompet. “Sebentar lagi hidupmu beda.”
Dompet diam. Tapi aku yakin, di dalam sana ada harapan yang mulai tumbuh.
Aku cek saldo.
Aku cek lagi.
Aku senyum.
“Ini beneran?” gumamku.
HP-ku sampai panas bukan karena prosesor, tapi karena emosiku mendadak naik.
Dari Dompet Tipis Jadi Candy Shop Dadakan
Sore itu aku keluar rumah. Bukan untuk pamer, tapi untuk… belanja kecil-kecilan. Aneh rasanya, biasanya cuma lihat-lihat, sekarang bisa ambil.
Aku mampir ke minimarket. Awalnya cuma mau beli minum. Tapi setelah lihat rak snack, pikiranku berubah.
“Ah, satu aja,” kataku.
Satu jadi dua.
Dua jadi tiga.
Tiga jadi… satu keranjang.
Permen di Sweet Bonanza seolah keluar dari layar dan pindah ke dunia nyata. Cokelat, permen, snack warna-warni—semuanya masuk keranjang.
Kasir menatapku.
“Acara apa, Mas?”
Aku jawab jujur,
“Acara hidup lagi baik.”
Dompetku dibuka. Biasanya dia berteriak, sekarang dia diam dan nurut. Uang keluar dengan tenang. Tidak ada drama.
Aku sampai ketawa sendiri.
“Ini dompet apa candy shop?”
Lingkungan Ikut Terkejut
Sampai rumah, meja penuh jajanan. Adik lewat, berhenti mendadak.
“Kak… kita habis ngerampok minimarket?”
“Enggak,” jawabku santai. “Hidup lagi manis.”
Ibu lewat, mengernyit.
“Kamu dapat uang dari mana?”
“Dari permen, Bu.”
“…Kamu kenapa sih belakangan?”
Aku tidak menjelaskan. Tidak semua keajaiban bisa dijelaskan dengan logika.
Grup WhatsApp mendadak ramai setelah aku kirim foto meja penuh snack.
Teman: “Buset, lu habis gajian 3 kali?”
Aku: “Enggak. Sweet Bonanza.”
Ada yang ketawa. Ada yang nanya jam main. Ada yang tiba-tiba ingat aku masih hidup.
Euforia yang Sederhana Tapi Berkesan
Malam itu aku duduk di kamar, makan permen sambil senyum-senyum sendiri. Bukan karena merasa kaya, tapi karena merasa… lega.
Lega karena bisa jajan tanpa mikir dua kali.
Lega karena dompet tidak menangis.
Lega karena hidup, untuk sesaat, terasa ringan.
Sweet Bonanza malam itu bukan cuma soal jackpot. Tapi soal momen kecil yang bikin hati hangat.
Aku buka dompet lagi. Isinya masih ada. Tidak langsung kosong seperti biasanya.
“Tenang,” kataku. “Kita jajan secukupnya.”
Dompet seolah mengangguk.
Kesadaran Datang Setelah Gula
Setelah euforia reda, aku duduk dan merenung. Hidup memang aneh. Kadang kita susah lama, lalu tiba-tiba dikasih momen manis yang bikin senyum sendiri.
Aku sadar satu hal: kebahagiaan itu tidak selalu harus besar. Kadang cukup bisa beli permen tanpa rasa bersalah.
Sweet Bonanza hari itu mengajarkanku pelajaran penting:
Hidup seperti permen jatuh—acak, tidak bisa ditebak. Hari ini pahit, besok bisa manis.
Dan yang paling penting, nikmati momennya tanpa berlebihan.
Manis yang Tidak Akan Dilupakan
Malam makin larut. Meja masih penuh snack. Dompetku akhirnya bisa tidur dengan tenang. HP-ku kugenggam sambil tersenyum.
Aku tahu, besok hidup akan kembali normal. Masalah tetap ada. Tanggung jawab tetap datang. Tapi setidaknya, hari ini aku punya cerita.
Cerita tentang satu hari ketika Sweet Bonanza membuat dunia terasa lebih cerah, dompet terasa lebih berat, dan hidup terasa lebih bersahabat.
Karena di hari itu,
jackpot Sweet Bonanza mengubah dompet tipisku menjadi candy shop dadakan.
Dan jujur saja…
itu adalah salah satu hari paling manis dalam hidupku. 🍬😄
